Masyarakat muslim dunia—di belahan bumi manapun—sudah terbiasa melaksanakan Maulid Nabi Muhammad Saw di tanggal 12 Robi’ul Awwal. Di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama islam, hal ini bukan sekadar tradisi melainkan budaya. Bahkan dalam kondisi pandemi Covid-19 pun tak menghalangi masyarakat muslim Indonesia untuk tetap merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. Pertanyaannya, mengapa hal ini menjadi penting bagi setiap muslim?

Kata “maulid” merupakan bentuk Mashdar Mim dari Fi’il Madli walada yang berarti kelahiran. Kata Maulud merupakan bentuk Isim Maf’ul dari Fi’il Madli walada yang berarti sesuatu yang dilahirkan. Jadi kata“maulid” memiliki arti waktu kelahiran atau tempat kelahiran. Masyarakat muslim di dunia, khususnya di Indonesia menggunakan kata “maulid” untuk untuk pengertian yang menunjukkan arti hari lahir Rasulullah Saw.

Hari kelahiran Nabi Muhammad Saw sangat berarti bagi umat muslim di seluruh dunia, karena hal tersebut adalah momentum kebangkitan seluruh manusia dari alam jahiliyah (kebodohan) menuju dunia yang lebih baik (penuh ilmu). Allah SWT berfirman dalam surat Al Anbiya;

“Dan tiadalah kami mengutusmu (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al Anbiya Ayat 21).

Ayat tersebut jelas menunjukkan dan menegaskan kepada kita keistimewaan Nabi Muhammad Saw sebagai manusia. Oleh karena menjadi penting memperingati hari kelahirannya.

Kamis, 19 November 2020, pukul 08.00 WIB di Aula SMAN 1 Sumenep, Dharma Wanita Persatuan (DWP) SMA Negeri 1 Sumenep menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw sebagai bentuk kesyukuran atas momentum kelahiran manusia istimewa yang membawa rahmatan lil alamin. Acara diawali dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat nabi oleh pengurus dan anggota DWP SMAN 1 Sumenep, yang dipimpin oleh Nyai Naning Suci Mulyani, S.Pd., dan diiringi Al Banjari SMAN 1 Sumenep.

“Mendirikan majelis ilmu seperti peringatan Maulid Nabi ini sangat penting untuk dilaksanakan oleh kita para ibu-ibu. Hal ini sebagai upaya dan bentuk pengabdian kita sebagai seorang ibu rumah tangga. Ibu sebagai pengayom bagi anak-anaknya. Keberhasilan ibu sebagai pengayom ditentukan oleh seberapa baik aqidahnya dan seberapa dalam ilmunya. Dan semua dapat kita ambil dari kegiatan semacam ini.”, tutur Ibu Hafidatun N. Sukarman, ketua DWP SMAN 1 Sumenep.

“Untuk itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para ibu-ibu pengurus dan anggota DWP SMAN 1 Sumenep atas kekompakannya dalam mempersiapkan acara ini. Saya berharap kebersamaan ini dapat terjaga dan ditingkatkan.”, tambahnya.

Dalam majelis ilmu ini, DWP SMAN 1 Sumenep mengundang Ustadz Zainul Fatah, S.Pdi. Seorang penceramah kondang asal Juluk-Saronggi yang menyambi sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Sumenep ini, mengungkapkan apresiasianya kepada DWP SMAN 1 Sumenep. Beliau mengungkapkan kebanggaannya sebagai bagian dari keluar besar SMAN 1 Sumenep karena ibu-ibunya bisa menggelar Maulid Nabi Muhammad Saw.

“Ini sungguh luar biasa. Ibu-ibu Dharma Wanita di sini mengadakan kegiatan peringatan dan perayaan Maulid Nabi Saw. Ini artinya, ibu-ibu juga menyadari akan pentingnya hari kelahiran dari manusia sempurna sekaligus kekasih Allah SWT yang diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Semoga kita semua mendapat syafaat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Aamiin.”

“Kita semua tahu keistimewaan Nabi Muhammad Saw. Sekarang yang penting adalah bagaimana ke depannya kita menauladani beliau. Maulid ini kita jadikan momentumnya. Jika kelahiran nabi Muhammad adalah momentum rahmatan lil alamin, maka peringatan dan perayaannya kita jadikan sebagai momentum untuk menjadi manusia yang lebih baik.”, imbuhnya. Usai ceramah, ustadz Zainul Fatah menutupnya dengan pembacaan doa.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama.

Leave a Comment