Penulis : Achmad Darwis Sutejo

Guru PAI SMA Negeri 1 Sumenep

Sejarah belajar adalah sejarah yang lekat dengan manusia. Al-Quran menunjukkan bahwa sejarah belajar adalah sejarah yang purba sepurba manusia itu sendiri. Dalam sejarah manusia yang tercantum dalam Al-Quran, setidaknya ada tiga cara manusia dalam belajar. Pertama, manusia bisa belajar melalui petunjuk  langsung dari Allah. Seperti kisah Nabi Adam AS, sang penghulu manusia,  yang diajari langsung oleh Allah tentang nama-nama. Ilmu yang didapatkan dari Allah, berupa kemampuan menyebut nama-nama itu, yang kemudian menjadi pembeda Nabi Adam AS dari malaikat ketika itu (al-Baqarah: 31). Pola belajar ini terjadi kepada hamba-hamba yang yang bertakwa.  Janji Allah, bertakwalah engkau kepada Allah, maka Allah akan mengajarmu. (Al-Baqarah: 282)

Kedua, manusia juga bisa belajar kepada alam. Misalnya  Qabil yang belajar menguburkan Habil melalui perantaraan seekor burung gagak (Al-Maidah: 31). Oleh karena itu Allah mengingatkan manusia untuk memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan dan bagaimana bumi dihamparkan (Al-Ghasyisyah: 17-20).  Perintah tersirat dalam ayat itu adalah belajar dari fenomena alam semesta, sebagai bagian dari wasilah untuk mendapatkan pengetahuan.

Ketiga, manusia bisa belajar kepada sesama manusia. Seperti kisah perjalannan panjang seorang murid bernama Musa AS yang belajar kepada sang guru ruhaninya, Nabi Khidhir AS (Al-Kahfi: 60-82) dan pelajaran yang disampaikan Lukman Al-Hakim kepada anak-anaknya (Luqman: 13-18). Kabar tersirat dari dua kisah itu mengkonfirmasi pola belajar Qurani yang ketiga ini, pengetahuan bisa didapatkan dari manusia.

Belajar dan Sekolah

Dalam perkembangan sejarah belajar, pola belajar Qurani pertama dan kedua mulai terkikis oleh pola belajar ketiga. Apalagi dengan hadirnya lembaga yang disebut sekolah, maka pola belajar semakin terpusat pada belajar kepada manusia.  Ekses fatal dari dominasi pola belajar kepada manusia ini adalah terkristalisasinya pemahaman bahwa belajar hanya di sekolah dan ruang kelas. Maka kemudian menjadi aneh dan terasa asing jika belajar tanpa dibimbing oleh guru dan tidak di sebuah ruang bebentuk balok raksasa  yang disebut dengan sekolah atau kelas.

Sekolah sebenarnya adalah hal yang sangat baru dibandingkan belajar. Sekolah modern pertama kali di dunia didirikan di Mesir Kuno sekitar tahun 3000 hingga 500 sebelum Masehi (SM). Sedangkan di Indonesia, sekolah baru diadakan tahun 1536 dengan berdirinya sekolah Katolik Portugis untuk anak-anak kepala desa pribumi di Ternate. Bandingkan dengan sejarah belajar yang bahkan diawali sebelum Nabi Adam masih di dalam surga, sebelum turun ke muka bumi.

Akibat dari pergerseran paradigm (shift paradigm) tentang pola belajar ini adalah pendangkalan makna dari kata belajar. Pendangkalan makna itu membuat tujuan belajar bukan lagi untuk meneguhkan kemanusiaan sebagaimana yang dilakukan oleh Adam AS di hadapan malaikat, tetapi belajar hanya untuk angka-angka di atas lembaran kertas bernama raport dan ijazah. Maka sungguh kata belajar telah mengalami diviasi, reduksi bahkan distorsi dari makna dan tujuan awalnya.

Belajar di Masa Pandemi

Badai covid-19 melanda Indonesia. Indonesia termasuk 181 negara dari 193 anggota PBB yang terkena wabah yang yang ditemukan pertama kali di Wuhan Tiongkok itu. Maka segala lini kehidupan menjadi tidak normal, termasuk proses belajar dalam dunia pendidikan. Dampaknya, UN ditiadakan dan siswa diliburkan—atau dibelajarkan di rumah—entah sampai kapan. Saat dalam ketidaknormalan belajar gara-gara pandemi inilah sebaiknya kita merenungkan kembali pemahaman tentang belajar selama ini.

Berikut beberapa catatan tentang belajar yang harus direnungkan. Pertama, sumber belajar itu tidak hanya guru. Banyak orang tua terkaget-kaget, ketika di masa pandemi dihadapkan pada situasi anak belajar tanpa sosok guru. Di sini terlihat, bahwa sosok guru, sebagai pola belajar Qurani yaitu belajar kepada manusia, begitu dominan dan membuat samar atau menghalangi pola belajar kepada Allah dan belajar kepada alam. Memahami guru sebagai sumber ilmu, tidaklah keliru. Tetapi membauatnya sebagai satu-satunya sumber ilmu itulah yang kurang tepat. Bukankah Allah masih menyediakan dua alternatif sumber belajar yang lain?

Kedua, kewajiban  belajar itu tidak dibatasi ruang. Itulah yang tersirat dari sabda Nabi, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kewajiban belajar itu tidak dibatasi oleh ruang seperti negara Arab atau negara China, atau dalam konteks saat ini adalah sekolah dan rumah. Batasan teritori tempat belajar itu terjadi karena begitu dominannya pemahaman bahwa belajar itu harus di sekolah.  Jadi belajar di rumah seperti saat ini bukanlah sebuah hal yang menyimpang.

Ketiga,  kewajiban  belajar sepanjang hayat. Inilah yang disiratkan Nabi bahwa kewajiban belajar itu mulai buaian sampai liang lahad. Kewajiban belajar itu melekat kepada manusia selama ia hidup, tidak memandang status apakah orang tua ataukah anak, guru atau murid. Karena belajar itu identik dengan manusia. Ketika manusia hidup tetapi tidak berpikir, maka ia kehilangan identitasnya sebagai manusia. Ini yang tersirat dari pepatah Arab bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir (hayawan nathiq). Descartes juga menyatakan, saya berpikir  maka saya ada (cogito ergo sum). Pernyataan ini menunjukkan bahwa berpikir sebagai sebuah kegiatan belajar adalah prasyarat eksistensi kemanusian.

Dengan pemahaman bahwa belajar melekat kepada manusia tanpa memandang status itu, maka sebenarnya stay at home saat pendemi saat ini menjadi momentum yang tepat bagi orang tua untuk mencipatakan iklim keluarga yang taat kepada perintah Nabi, yaitu belajar. Untuk menunaikan kewajiban belajar ini, orang tua harus melakukan pendekatan da’wah (mengajak)  dan uswah (memberi keteladanan) dan pendampingan (shuhbah).Tiga pendekatan ini menuntut partisipasi aktif dalam belajar. Mereka dituntut menjadi pembelajar, sebelum menciptakan proses belajar.  Itu lebih efektif daripada hanya menggunakan pendekatan perintah. Inilah yang diisyaratka leluhur  kita, bahwa contoh itu lebih baik daripada beribu-ribu nasihat.

Keempat, kewajiban mendidik dan mengajar itu sebenarnya ada di pundak orang tua. Ini yang tersirat dari firman Allah, “lindungi dirimu dan keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim: 6). Jadi jika selama ini beban pendidikan didelegasikan sepenuhnya kepada pihak sekolah, kini mulai kembali kepada titik kordinatnya. Kalau ada sebagian orang tua yang merasa bahwa dengan membayar iuran sekolah ia bisa melepaskan tangggung jawab pendidikan anaknya kepada guru maka hal itu perlu dipikir ulang. Meskipun, dengan alasan pandemi, sebenarnya guru juga tidak akan lepas tangan, kini orang tua mulai diberikan peran dan posisinya sebagai penanggung jawab utama atas perkembangan anak-anaknya. Tidak seperti yang selama ini terjadi, seakan-akan semua menjadi tanggung jawab guru. Kalau ada anak bermasalah, orang tua tingggal protes dan  marah karena yang salah adalah guru dan sekolah.

Dalam hal belajar, empat hal di atas adalah hal yang semestinya dipahami dan dilakukan. Karena perjalanan sejarah berlajar manusia yang bergeser sedikit-sedikit dari jalurnya dan dalam kurun waktu  yang panjang, membuat pemahaman belajar itu tidak sebagaimana semestinya. Pemahaman yang tidak normal terhadap belajar, membuat pola pikir dan sikap tentang belajar menjadi tidak normal.  Ketidaknormalan itu berlangsung lama dan sebagian kita menganggap itu sebagai hal yang normal dan wajar. Padahal itu tidak benar. Mari memaknai belajar dengan sebenarnya, agar sikap belajar kita menjadi benar.

4 Thoughts to “MERENUNGKAN MAKNA BELAJAR DI MASA PANDEMI”

  1. Arohman, S.Pd.

    Alhamdulillah. Bagus tulisannya pak.

    1. Darwis

      Terimakasih pak

    2. Darwis

      Terimakasih pak arohman

    3. Admin

      Terimakasih sudah mengunjungi website resmi SMA NEGERI 1 SUMENEP 🙂

Leave a Comment