Matahari bersinar cerah di ufuk timur. Menyinari punggung SMA Negeri 1 Sumenep yang memang berposisi membelakangi matahari terbit. Sebenarnya  November ini adalah musim penghujan. Tetapi entah mengapa hari ini sedemikian cerah. Secerah wajah dua siswi Smansa yang baru saja menyelesaikan final Lomba Karya Ilmiah Remaja(LKIR) yang setiap tahun rutin diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) Jakarta.

LKIR ini bukan main-main. Lomba ini adalah ajang perlombaan karya ilmiah terbesar dan paling bergengsi se-Indonesia yang selalu diikuti oleh ribuan peserta dari ribuan sekolah di tanah air. Tahun 2020 ini LIPI mengadakan LKIR ke-52 secara daring karena situasi dunia yang masih dilanda pandemi. Tetapi itu tak menghalangi kesakralan dan kualitas lomba. Ada sekira 2400 proposal yang masuk dan berlomba dalam empat kategori yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan(Social and Behavioral Sciences), Ilmu Pengetahuan Hayati(Life Sciences), Ilmu Pengetahuan Teknik(Engineering Sciences), dan Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Kelautan(Earth and Marine Sciences). Masing-masing kategori akan diambil sekira sepuluh proposal yang dianggap layak diteruskan ke tahap penelitian. Setelah kesepuluh proposal ditentukan maka LIPI memberikan pendampingan(mentoring) kepada para peserta. Itulah bedanya LKIR dengan lomba karya ilmiah yang lain. Ada proses mentoring langsung oleh para peneliti LIPI terhadap peserta untuk membimbing, mengarahkan, dan melihat kemajuan pembuatan karya ilmiah sehingga karya yang dihasilkan layak dan berkualitas. Karya yang dianggap layak berlaga oleh mentor setelah melalui tahap seleksi kedua akan diumumkan di final. Ada sekira sembilan karya tulis pada setiap kategori  yang masuk final. Berarti Cuma ada sekira 3—4 karya yang gagal. Dari Sembilan karya tulis per kategori tersebut akan dipilih masing-masing tiga pemenang juara satu,dua, dan tiga.

Nasywa (kiri) dan Meiza dalam Final LKIR LIPI 2020

Meiza dan Nasywa, dua siswa Smansa yang berhasil menembus final LKIR 2020 menceritakan pengalamannya berkutat di bidang penelitian khususnya di Smansa Sumenep. Sejak 2019 SMA Negeri 1 Sumenep mencanangkan sebagai Sekolah Riset dengan membentuk Tim Literasi dan Riset(Liris). Tim ini bertugas meningkatkan kemampuan literasi siswa di sekolah dan mencari sekaligus membina siswa yang tertarik mendalami dunia penelitan(riset). “dulu kami ikut seleksi. Ada sekira seratusan orang yang ikut seleksi di Aula Smansa.” Kata Meiza. “ Tapi kemudian jumlah menyusut sampai sekira dua puluhan orang. Sampai akhirnya tinggal 8 orang siswa saja.”timpal Nasywa sambil tertawa renyah.  “Anggapan bahwa meneliti itu sulit, melelahkan, dan membosankan masih melekat dalam mindset teman-teman kita. Itu yang membuat Tim Olimpiade Penelitian Smansa(TOPS) sepi peminat.” Sambung Meiza.  “Tapi tentu saja itu tak menyurutkan langkah kami untuk menggiatkan riset. Pertama memang sulit. Bahkan beberapa diantara kami mulai dihinggapi kejenuhan. Bisa dibayangkan. Setiap hari kami mencari data, khususnya ketika kami mengikuti lomba LKIR dan KOPSI yang diadakan Kemendikbud. Kami  terjun ke daerah, khususnya di Ambunten dan Saronggi yang merupakan tempat penelitian kami. Bersama-sama berdelapan orang. Panas hujan kami nikmati. Yang penting data terkumpul”, bebernya lagi. “Pernah kami terjebak hujan ketika sedang menyaksikan ritual Cahe di Saronggi. Memasuki Gua Mandalika untuk mencari air tujuh rasa. Setiap hari harus mengirim sampel tujuh bunga ke laboratorium di Malang, karena tidak ada laboraturium yang memenuhi kualifikasi di sini,” sambung Nasywa. “ Bisa dibayangkan . ketika kami diumumkan berhasil menembus final LKIR LIPI, setiap malam kami membuat laporan penelitian dalam bentuk log book. Menganalisis data dan berkonsultasi dengan Pembina dan Mentor dari LIPI terkait fenomena-fenomena dan temuan baru dari penelitian kami. Puncaknya kami harus mendalami materi dan menyelesaikan proposal menjadi penelitian lengkap di Malang. Dengan pertimbangan ada salah satu pembina kami di sana dan dekat dengan tempat kami nge‑lab”, tambah Meiza. “Dan ketika final yang dilaksanakan secara daring, kami sedikit nervous. Bisa dibayangkan kami yang dari daerah berhasil menembus final lomba karya tulis paling bergengsi di tanah air. Bertanding dengan siswa-siswa pilihan di Indonesia. Dan menurut informasi yang kami dapatkan, belum pernah ada selama 50 tahun terakhir pelaksanaan LKIR, peserta dari Madura yang berhasil menembus final. Kami bahagia dan haru”, berkata Meiza dengan mata berkaca-kaca.

Proses Pengambilan Data Penelitian ~ Dok. Humas Smansa

Kami bertanya bagaimana dengan pelaksanaan final itu. Nasywa mengatakan bahwa sebenarnya mereka bisa menjawab semua pertanyaan juri dengan lancar. Tapi ada beberapa kendala teknis yang menyangkut jaringan dan laptop yang tiba-tiba ngadat. “ Karena final ini daring, maka mungkin saja itu berpengaruh signifikan bagi penilaian juri,” timpal Meiza. “Tapi kami sudah berusaha sebaik-baiknya. Kami pasrahkan pada Allah hasilnya. Insyaallah ini yang terbaik bagi kami”, kata Nasywa sambil tersenyum. “Ternyata dalam pengumuman final kami  gagal meraih juara. Tapi kami puas telah mendapatkan banyak sekali pengalaman yang nantinya harus kami tularkan pada adik-adik kelas di TOPS demi kelangsungan pengembangan riset di sekolah”, tambah peraih juara 3 lomba menulis esai tingkat nasional itu. “Fokus kami sekarang pada MCTEA. Kompetisi riset yang diselenggarakan di Brasil. Sebelumnya kami dan beberapa sekolah lainnya berhasil mewakili Indonesia dalam seleksi yang diadakan di bulan Oktober kemarin”, pungkas Meiza.

Apa pesan yang ingin disampaikan  pada adik-adik kelas yang tertarik meneliti dan bergabung dengan Tim Olimpiade Smansa? Mereka saling berpandangan dan tersenyum. “Tetap bersyukur, rendah hati, , selalu berusaha,berdoa, dan bertawakkal kepada Allah. Jika suatu saat kebosanan mulai menghampiri, lakukan aktivitas yang akan membuatmu nyaman dan lebih baik. Karena konsistensi merupakan kunci keberhasilan bagi sebuah riset”, kata Meiza.  “Jangan mudah menyerah pada apa yang telah kalian pilih karena kalian tidak pernah tahu seberapa dekat kalian dengan keberhasilan. Yakinlah bahwa Tuhan punya skenario terbaik dalam hidup manusia”, pungkas Nasywa. Mereka juga mengatakan bahwa orang tua, guru-guru di sekolah, dan para pembina riset memberi andil yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan dan peningkatan prestasi mereka.

Proses Pengambilan Data ~ Dok. Humas Smansa

Matahari sudah tinggi. Kristal-kristal cahayanya menembus Ruang Riset yang terletak di lantai 2 sebelah utara lapangan voli sekolah tersebut. Ruang yang belum genap  setahun diresmikan itu menjadi saksi perjuangan siswa Smansa yang tergabung dalam TOPS untuk meraih prestasi di bidang riset. Di tempat ini pula segala komitmen, usaha,  dan segenap doa dilantunkan untuk menggapai mimpi menjadikan SMA Negeri 1 Sumenep sebagai sekolah literasi dan riset yang menjadi rujukan sekolah-sekolah lain di ujung timur bumi Madura atau bahkan di Madura itu sendiri. Meiza, Nasywa, Amel, Fifin, Reza, Rizky, Agist, dan Faris adalah penghuni pertama Ruang Riset. Ingat-ingat nama mereka. Dari merekalah nama Smansa Sumenep berkibar di LKIR LIPI, KOPSI, PIN, SIRIUS, MCTEA  dan lomba-lomba penelitian tingkat nasional dan internasional tahun 2020 ini. Selesai berbicara panjang kami pulang. Membawa mimpi dan semangat yang membara untuk memberi andil bagi pengembangan literasi dan riset di SMA Negeri 1 Sumenep.

2 Thoughts to “Meiza, Nasywa, dan Cerita Menembus Final LKIR LIPI 2020”

  1. Daferi

    Lanjutkan, tularkan pada adik2nya.

  2. Admin

    terimakasih saran dan semangatnya 🙂

Leave a Comment