Kisah Anak-Anak Smansa Sumenep Menjadi Juara 2 di MCTEA Brasil 2020

Jarum jam menunjukkan pukul 7.30 pagi. Angin musim hujan meniup sepoi dan dingin. Daun-daun dari tetumbuhan yang berjejer rapi di depan kelas dan musala terlihat basah dan segar. Aroma tanah basah menyeruap di antara kepungan gedung di lingkungan SMA Negeri 1 Sumenep. Sisa hujan tadi malam yang mengguyur Kota Sumenep sebenarnya membuat hati enggan kemana-mana. Tetapi di Musala At-Taqwa kebanggaan Smansa itu justru Ranov berada. Lelaki yang bernama lengkap Aghits Royyan Rohmanov itu raut mukanya terlihat tegang. Matanya awas menatap layar smartphone seakan tidak mau ada yang terlewat. Dari layar tampak semacam telekonferensi dari beberapa orang yang berbicara dalam bahasa Brasil. Rupanya hari ini, Minggu 22 Desember pukul 7.30 waktu Indonesia barat atau Sabtu, 21 Desember pukul 21.30 waktu Brasil adalah pengumuman pemenang Mostra De Ciencias E Tecnologia Da Escola Acai (MCTEA) 2020, sebuah ajang lomba penelitian internasional yang diadakan bergantian di beberapa Negara. Tahun ini Brasil dipercaya menjadi tuan rumah ajang bergengsi tersebut.

Nasywa (Kiri) dan Ranov dalam Final MCTEA 2020

Suasana ketegangan berubah haru saat diumumkan bahwa tim Smansa Sumenep yang diwakili oleh Ranov dan Nasywa Asmi Chandrakanti berhasil menjadi juara 2 di kategori bidang penelitian Agraria/Medio/Tecnico, kategori yang memang diikuti oleh tim dari tiga kategori yang lain. Juara 1 diraih oleh tim Toledo/Parana dari Brasil. Sedangkan juara 3 diraih oleh tim Mato Grosso do Sul, juga dari Brasil. “Kami tidak menyangka. Semula kami tidak berekspektasi terlalu jauh. Yang penting kami sudah berusaha. Kalah menang urusan belakangan. Alhamdulillah di final kemarin kami bisa menjawab semua pertanyaan juri dengan baik.”, kata Ranov dengan wajah binar gembira. “Kami gak menyangka bisa (meraih) juara 2. Meskipun untuk final ini kami mempersiapkan diri dengan baik, namun ada saja kendala yang menghampiri. Salah satunya kendala bahasa. Orang Brasil agak mirip orang Jepang. Ketika berbahsa Inggris terdengar agak kaku. Ada beberapa kata, kalimat, atau vokal yang kurang jelas sehingga kami meminta untuk diulang. Kadang hal kecil seperti ini agak mengganggu konsentrasi kami. Tapi syukurlah kami bisa melalui sesi itu dengan baik,” tambah Ranov. “Ada kejadian lucu menjelang final. Kan sebelum final kami dan para Pembina menginap di sekolah. Selain belajar materi dan mempersiapkan diri, jaringan internet di sekolah juga jauh lebih kenceng daripada di rumah. Presentasi final di jadwal kami akan diadakan hari Rabu pukul 4 sampai pukul 7 pagi karena menyesuaikan dengan waktu di Brasil. Semalaman kami mempersiapkan diri. Mulai latihan presentasi dalam bahasa Inggris, pendalaman materi, sampai melakukan simulasi. Hamper semalaman pula kami tidak tidur. Kami hanya sempat terlelap satu jam. Itupun kami segera terbangun untuk Salat Subuh. Demikian juga para guru pembina lainnya.  Selepas Subuh kami langsung stand bye di depan laptop. Peserta dari Brasil masih tampil dengan bersemangat. Kami tunggu sampai pukul 8.30, nama kami belum dipanggil. Guru-guru sudah mulai resah. Tidak mungkin lomba penelitian apalagi tingkat internasional bisa ngaret sedemikian parah. Iseng-iseng saya lihat jadwal. Astaghfirullahal ‘adzim. Saya salah jadwal. Seharusnya kita tampil keesokan harinya,Kamis pukul 4 sampai pukul 7 pagi. Saya lupa kalau perbedaan waktu Indonesia dan Brasil adalah sepuluh jam lebih awal kita.” Beber Ranov sambil tertawa lepas. “Tentu saja kami tidak enak pada guru pembina yang sudah capek-capek semalaman begadang membimbing kami. Tapi kami semua malah tertawa lepas. Selepas sarapan kami pulang ke rumah. Tidur pulas. Nanti malam kembali lagi ke sekolah untuk mempersiapkan final. Tapi hikmahnya adalah kami bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi. Istirahatpun jadi lebih lama. Sehingga ketika tampil di final kami jauh lebih segar daripada kemarin.” Tambah anggota Tim Olimpiade Penelitian Smansa (TOPS) tersebut.

Smansa Sumenep juga didelegasikan untuk mengikuti lomba penelitian ilmiah di New York Amerika

Ditemui terpisah di rumahnya, Nasywa juga menceritakan pengalamannya di final MCTEA tersebut. “Kaki saya terkilir tepat sepuluh menit sebelum saya melihat pengumuman bahwa kami juara 2. Ini gara-gara saya menyanyi lompat-lompat di dapur, padahal saya lagi masak mie instan” Nasywa tergelak sambil meringis kesakitan. Kakinya memang terlihat bengkak dan agak kesulitan berjalan. “Tapi sudah dipijet kok, jadi lumayan membaik. Sekarang saya mulai belajar berjalan. “ tambahnya. Bagaimana suasana final? Nervous? “sedikit.” Kata Nasywa memperlihatkan senyum manisnya.  “Yang paling berkesan adalah ketika kami mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari juri. Ketika ditanya tentang kendala apa saja yang dialami selama meneliti , kami jawab bahwa ketersediaan laboratorium yang memadai tidak ada di Sumenep sehingga kami harus ke Laboratorium Sentra Ilmu Hayati (LSIH) Universitas Brawijaya Malang.” Beber Nasywa. “Ketika ditanya berapa kali pengulangan dalam pengujian sampel, kami jawab tiga kali pengulangan. Sampel dari lima jenis nasi yaitu nasi putih, nasi putih pera, nasi goreng, nasi uduk, dan nasi kuning yag telah disiapkan diolah sesuai dengan 6 jenis perlakuan kemudian diuji dengan metode pengujian kadar pati resisten menggunakan metode AOAC dan AACC. Pengujian ini dilakukan dengan tiga kali pengulangan sehingga diperoleh total 90 nilai pati resisten. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan nasi putih pulen sebagai kontrol lalu dianalisis sehingga diketahui perbedaan kandungan pati resisten pada masing-masing jenis pangan. “tambah pemenang juara 3 menulis esai tingkat nasional itu. “Paling berkesan adalah pertanyaan ketiga. Juri menanyakan apa kebaruan dari penelitian kami. Kami menjawab bahwa kami memberi tahu dunia bahwa kami, orang Indonesia, telah lama menemukan cara memasak yang sehat tapi enak. Selama ini Indonesia dikenal sebagai surganya makanan enak dan lezat. Kekayaan bumbu rempah nusantara memberikan cita rasa masakan yang berbeda,khas, dan lezat. Beberapa tahun yang lalu CNN mengumumkan Rendang sebagai makanan paling lezat di seluruh dunia, bersama Nasi Goreng, dan Sate dari Indonesia. Restoran- restoran Indonesia bertebaran di seantero dunia, tidak terkecuali di negara-negara Eropa dan Amerika. Bahkan di Amerika, Nasi Uduk dianggap sebagai makanan orang kaya karena berharga mahal. Ini mungkin karena rempah-rempah didalamnya yang berbaur menghasikan nasi yang harum dan enak dimakan. Riset ini membuktikan bahwa pengolahan tradisional yang dilakukan terhadap nasi nasi goreng, nasi kuning, dan nasi uduk ternyata mengandung kalori yang lebih sedikit daripada nasi putih setelah pengujian pati resisten. Artinya Indonesia memiliki solusi mengurangi risiko obesitas dengan cara pengolahan masakan yang tepat dan tradisional yang digali dari kekayaan kearifan budaya lokal, khususnya di bidang kuliner .”tambah finalis LKIR LIPI 2020 itu. Nasywa juga mengatakan bahwa kemenangan di MCTEA 2020 ini mengantarkan mereka ke Genius Olimpiad da Universidade Estadual de New York, di Oswego New York Amerika Serikat tahun 2021. “hal yang patut kami syukuri adalah, Smansa Sumenep juga didelegasikan untuk mengikuti lomba penelitian ilmiah di New York Amerika. Ini sama sekali tidak kami sangka-sangka. Ibarat mendapat durian runtuh. Berjatuhan rahmat dan karunia Allah kepada kami.”pungkas Naswya dengan mata berkaca-kaca.

TOPS sedang melakukan penelitian di Laboratorium Sentra Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang

Drs. Sukarman selaku kepala SMA Negeri 1 Sumenep merasa bangga dengan pencapaian prestasi anak didiknya. “Ini peristiwa bersejarah bagi kami. Untuk pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri, SMA Negeri 1 Sumenep berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi juara lomba penelitian tingkat internasional. terima kasih kepada semua Pembina, khususnya Tim Literasi dan Riset. Terima kasih kepada seluruh dewan guru, staf Tenaga Administrasi Sekolah dan seluruh warga sekolah yang memiliki andil besar mengantarkan siswa kita hingga ke jenjang ini. Kami akan mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi dalam lomba penelitian lanjutan di Amerika. “pungkas lelaki kelahiran Lumajang 55 tahun yang lalu itu.

TOPS sedang melakukan penelitian di Laboratorium Sentra Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang

Tidak ada yang mustahil dalam meraih cita-cita selama kita sertakan usaha dan doa-doa di dalamnya. Anak-anak Smansa telah membuktikannya. Berawal dari mimpi sederhana. Mengamati, mengidentifikasi masalah, menganalisis. Terjun ke lapangan mencari fakta dan data. Menembus hujan, ditikam Matahari dengan tabah dijalani. Berkutat dalam pengapnya laboratorium. Menguji sampel, menunggu hasil berbulan-bulan. Butuh kesabaran, ketabahan, dan hati yang baja dalam menghadapi serta mengurai segala peristiwa, segala masalah. Dengan mengucap syukur kepada Allah Swt., tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Hasil yang tak perlu menyertakan euforia berlebihan yang justru berpotensi menjerumuskan kita ke jurang kesombongan. Hal yang sangat dibenci Tuhan Seru Sekalian Alam. Dengan mengucap bismillahirrohmannirrohim, Amerika, kami datang!

6 Thoughts to “Dari Brasil ke Amerika”

  1. Irwan junaidi

    Selamat Dan sucses dengan apartment yang Sudan di capai kedepannya semoga bisa berprestasi lebih tinggi lagi di kancah international

  2. Irwan junaidi

    Selamat Dan sucses dengan apa yang Sudan di capai kedepannya semoga bisa berprestasi lebih tinggi lagi di kancah international

  3. Muh.rizky ramadhani

    Selamat dan sukses untuk kita kita semua dan semoga saya juga bisa mengikuti jejak mba dan kakak.

    1. Amin 🤲😇 semoga menjadi pemantik bagi seluruh siswa/siswi SMA lebih khusunya siswa SMAN 1 SUMENEP.
      Terimakasih atas dukungan dan semangatnya

  4. Miftah

    Selamat dan sukses buat SMAN 1 SUMENEP. Teruslah semangat dan berkarya membangun negeri.

    1. Terimakasih atas dukungan dan semangatnya selama ini, 🙏🙏
      Amin 🤲🤲,

Leave a Comment