Semester genap Tahun Pelajaran 2020/2021 merupakan semester yang gamang bagi civitas akademika SMAN 1 Sumenep. Bagaimana tidak? Setelah harus merela untuk melepaskan beberapa guru-guru kebanggaan pada semester ganjil lalu, kini Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri tertua di Sumenep ini harus mengikhlaskan kembali dua orang guru kebanggaan yang lain. Beliau adalah Ibu Dwi Wahyu Krestany, S.Pd. dan Ibu Ika Fajrin Aisyah, S.Pd.

Dilema. Ya, mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan perasaan keluarga besar SMAN 1 Sumenep. Di satu sisi, kami turut bergembira dan bersyukur atas lulusnya ibu Tanty dan ibu Ika pada seleksi CPNS tahun 2020. Namun di sisi yang lain, kami harus kehilangan mereka karena akan bertugas di tempat yang lain.

Dok. Humas SMANSA Sumenep

Setelah lebih dari 10 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru kontrak di SMAN 1 Sumenep, ibu Tanty dan ibu Ika, di awal tahun 2021 ini beliau berdua mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jawa Timur untuk mengemban amanah di sekolah baru. Ibu Tanty mendapatkan SK mengajar di SMAN 1 Masalembu, sedangkan Ibu Ika ditempat-tugaskan di SMAN 1 Gapura.

SMAN 1 Sumenep menggelar acara pisah kenang untuk mengenang dan melepas kepergian beliau berdua. Acara Pisah Kenang dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Januari 2021, di Aula SMAN 1 Sumenep.  Acara yang dihadiri segenap dewan guru, tenaga administrasi dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) SMAN 1 Sumenep ini merupakan sebuah momentum untuk mengucap salam perpisahan dan saling menguatkan bagi hati siapapun yang hadir. Baik hati yang akan meninggalkan maupun hati yang akan ditinggalkan.

Dok. Humas SMANSA Sumenep

“Tak banyak yang bisa saya sampaikan di sini. Sebab perasaan ini bercampur aduk. Senang dan sedih berebut ingin saling diucapkan lebih dulu. Kami senang sebab kami lulus tes CPNS, tapi kami juga sedih sebab harus mengajar di tempat tugas yang baru meninggalkan sekolah tercinta (Smansa Sumenep). Kami berdua dibesarkan di sini. Sebagai alumnus sekolah ini, kami bangga bisa mengabdi selama 10 tahun lebih di sini.”, demikian ucap ibu Tanty dalam sambutannya (juga mewakili ibu Ika) dengan mantap, sebelum getaran perasaan lain merambat dari hati ke sekujur tubuhnya. Beliau melanjutkan.

“Oleh karenanya, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada guru-guru kami yang telah membimbing kami sejak SMA ketika masih menjadi siswi hingga menjadi guru. Kepada teman-teman guru, terima kasih atas kebersamaannya selama ini. Kami juga mohon maaf apabila terdapat ucapan dan sikap yang menyakitkan, baik yang disengaja atau tidak disengaja.”Pungkas ibu Tanty mengakhiri sambutannya seraya mengusap pipinya. Diam-diam kamipun mengikutinya, menyeka air mata.

Perasaan yang sama disampaikan oleh ibu Hj. Hafida mewakili dewan guru. Dalam sambutannya, ibu Hj. Hafida menyampaikan terima kasih kepada ibu Tanty dan ibu Ika atas ketulusan dan pengabdiannya selama di SMAN 1 Sumenep.

“Kalian adalah murid-murid kebanggaan Smansa. Lulus dari sekolah ini dan kembali lagi ke sekolah ini untuk mengabdi. Itu luar biasa.” Puji ibu Hj. Hafida.

“Sebagai guru, saya ingat betul ketika bu Tanty masih menjadi murid. Dia adalah murid yang cukup sering berurusan dengan BK. Oleh karenanya, ketika konsultasi tentang perkuliahan, kami guru BK menyarankan kepada bu Tanty untuk memilih jurusan pendidikan konseling. Supaya dia tahu susahnya menjadi guru BK. Ternyata takdir mengamini. Sekarang bu Tanty telah menjadi guru BK yang PNS. Selamat ya, bu Tanty!”, seraya tersenyum dengan maksud sejenak melupakan kesedihan. Dan hal itu memang berhasil membuat kami tertawa riuh.

Dok. Humas SMANSA Sumenep

“Selamat juga untuk bu Ika, karena tempat tugasnya tidak terlalu jauh. Itu patut disyukuri. Untuk bu Tanty, jangan patah semangat. Yakinlah bahwa sampeyan ditempatkan di Pulau Masalembu yang jauh karena Allah SWT tahu bahwa sampeyan adalah perempuan kuat dan hebat.”, demikian motivasi yang disampaikan oleh ibu Hj. Hafida untuk menguatkan keduanya.

Sementara kepala SMAN 1 Sumenep, bapak Drs. Sukarman, juga menyampaikan motivasi bagi keduanya untuk ikhlas dan tabah dalam mengemban amanah yang baru.

“Dibilang kehilangan, iya… saya kehilangan! Tapi saya tak akan berlarut-larut di situ. Selama saya masih kepala sekolah di sini, saya akan menunggu sampeyan berdua kembali ke sini. Setelah cukup masa pengabdiannya, ajukanlah mutasi untuk kembali ke sekolah ini. Dan Insya Allah, saya akan segera memberi surat lulus butuhnya.” Ucap bapak Drs. Sukarman untuk menumbuhkan optimisme ibu Tanty dan ibu Ika.

“Akhir kata, dengan segenap keteguhan hati, saya telah ikhlas dan mengizinkan sampeyan berdua meninggalkan sekolah ini. Selamat jalan ibu Tanty dan ibu Ika. Selamat bertugas di tempat yang baru!”, pungkasnya. Sambutan kepala sekolah itu begitu ampuh untuk membuat suasana hati kami menjadi jauh lebih teguh, tenang dan enteng.

Dok. Humas SMANSA Sumenep

Dua sisi mata uang, begitulah pertemuan dan perpisahan dapat dianalogikan. Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Pertemuan adalah awal dalam sebuah hubungan, namun perpisahan bukanlah akhir dari sebuah hubungan. Sebab, akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, kepada ibu Ika dan ibu Tanty, kami ucapkan selamat berlayar mengarungi perjumpaan-perjumpaan baru. Selamat jalan ibu Tanty dan ibu Ika. Selamat berdharma bagi anak bangsa. Selamat mengabdi. Selamat bertugas di tempat yang baru! Sukses selalu menyertai kita! Aamiin.

Leave a Comment