M. Hari Nurdi, S. Pd

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Sumenep

Di sebuah kelas Bahasa Indonesia pukul 11 siang saya tertegun. Beberapa pancingan berupa cerita dan humor masih belum mendapat respon siswa. Ada satu dua siswa yang tersenyum. Saya tahu mereka tersenyum walau pun menggunakan masker. Toh, masker hanya menutupi wajah. Tetapi tidak bisa menyembunyikan binar yang terpancar dari wajah. Sayangnya saya hanya melihat satu dua saja yang tersenyum. Sejumlah 15 siswa lainnya hanya memandang dengan tatapan hampa dan kosong. Lima belas siswa karena sekolah kami menerapakan PTM terbatas. Kelas hanya menampung maksimal separuh jumlah siswa di kelas tersebut. Prosedur kesehatan harus dilaksanakan di era pandemi ini. Setiap bangku harus diisi satu siswa dan bermasker. Ruangan disemprot desinfektan sebelum dan sesudah mengakhiri pelajaran. Di setiap kelas harus tersedia handsaniteizer. Di luar kelas disediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. Singkat kata semua prosedur kesehatan harus dilaksanakan dengan ketat. Bahkan sekolah kami membentuk sendiri satgas covid sebagai perwujudan kehati-hatian itu. Kembali ke ruang kelas yang hampa dan kosong. Materi pelajaran hari itu sebenarnya sangat menarik. Tentang cerpen. Sebelum membahas unsur-unsur cerpen saya perkenalkan dulu beberapa cerpen yang mungkin bisa memikat mereka seperti “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” karya Seno Gumira Ajidarma dan “ Kasur Tanah” karya Muna Masyari. Cerpen bertema cinta mungkin akan menarik minat mereka sebagai remaja meskipun cinta yang ditawarkan Seno adalah cinta-cinta yang tak lazim. Yang kadang endingnya  aneh dan absurd. Sedangkan cerpen kedua bertema budaya. Kebetulan Muna sendiri adalah cerpenis berbakat Madura dan cerpen ini juga dinobatkan sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 2017. Tetapi memang aneh bin ajaib. Cerita dan humor yang saya selipkan belum mengalihkan perhatian sebagian besar mereka yang sepertinya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sebelum pandemi hal ini jarang sekali terjadi. Biasanya siswa akan sangat antusias apabila mendengarkan cerita apalagi jika dibumbui humor. Apa karena jam ini adalah jam terakhir. Atau mungkin terlalu lama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) mengubah pola pikir, gaya belajar, dan kepekaan mereka terhadap sens of humor.

            Di kelas yang sama di minggu depannya namun giliran siswa yang berbeda. Suasana begitu hidup. Mayoritas siswa sangat ekspresif mendengarkan cerita tentang cerpen yang sama. Mata-mata mereka menyala dan memancarkan kegairahan menyerap ilmu. Padahal jamnya juga sama pukul 11 siang. Beberapa pertanyaan saya mendapat tanggapan yang menggembirakan. Kelas begitu hidup. Namun ada hal yang sama dengan kelas sebelumnya yang saya catat. Mereka mulai kesulitan jika sudah menyentuh materi pelajaran.  Saya seperti harus mengulang lagi materi-materi sebelumnya yang sebenarnya sudah diberikan ketika PJJ. Sebenarnya itu bukan masalah. Tetapi akhirnya waktu yang ada digunakan untuk mengulang lagi materi yang sebenarnya sudah dijelaskan. Bahkan sebelum PJJ hal ini lumrah terjadi. Ketika pandemi hal semacam ini lebih sering terjadi.

            Pandemi Covid 19 ini telah mengubah banyak hal dalam setiap sendi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Beberapa kebiasaan baru diterapkan untuk mengurangi persebaran virus yang masih belum ditemukan obatnya ini. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan adalah hal yang terus disuarakan oleh pemerintah di segala lini media baik cetak, elektronik, maupun media sosial lainnya.  Saya paham pemerintah kita, sebagaimana pemerintah di negara-negara lainnya di dunia, juga pasti mengusahakan yang terbaik bagi warganya. Tetapi saya juga memaklumi bahwa hambatan pemerintah begitu besar dalam menghadapi pandemi ini. Salah satunya adalah kesadaran masyarakat mengubah kebiasaan lama dan beralih ke kebiasaan baru. Kita yang jarang sekali memakai masker, kecuali sedang sakit, harus membiasakan memakai masker di mana saja khususnya bila di tempat umum. Jika sebelumnya kita mencuci tangan sebelum makan dan setelah makan saja sekarang setelah beraktivitas apapun harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setidaknya dua menit. Masyarakat kita yang terkenal ramah dan suka bergotong royong, senang ngopi dan cangkrukan kini dibiasakan menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Akhirnya pandemi ini memecah bangsa kita menjadi dua golongan. Yang percaya dan yang tidak percaya. Yang taat melaksanakan prosedur kesehatan dan yang abai. Yang percaya meyakini bahwa dengan menaati prosedur kesehatan kita akan terhindar dari virus ini, meskipun tentu saja itu bukan satu-satunya jaminan. Bahkan beberapa menteri, gubernur, selebriti, dan bahkan ketua satgas covid nasional pun masih bisa terinveksi virus  ini. Tetapi setidaknya ada usaha untuk menghindari dan menekan persebaran virus. Bagi yang tidak percaya cenderung mengabaikan prosedur kesehatan. Hal yang sering dijadikan alasan adalah tingkat kesembuhan dari covid 19 ini yang mencapai 80—90% menjadikan virus ini tidak lebih berbahaya dari penyakit jantung, diabetes, TBC dan penyakit-penyakit “pembunuh” lainnya. Padahal kita tahu bahwa covid 19 ini justru sangat berbahaya bagi pasien komorbid, yaitu pasien yang mengidap penyakit bawaan. Biasanya yang berusia di atas 40 tahun. Bahkan ada juga yang tidak percaya dan menganggap penyakit ini tidak ada dengan berbagai teori konspirasinya.

            Keterbelahan ini juga menimpa dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Sumenep. Ada wali murid yang minta agar sekolah dibuka lagi. Pembelajaran tatap muka diadakan lagi. Ada yang meminta PJJ tetap dilaksanakan dengan pertimbangan masih banyak kasus penularan dan belum ditemukan obat covid, meskipun vaksin sudah diberikan secara bertahap. Hal ini menjadi dilema. Di satu sisi kita ingin agar proses pendidikan berjalan lancar. Di sisi lain kita juga harus mencermati keadaan. Jangan sampai ada siswa yang terpapar bila kita melaksanakan pembelajaran secara normal. Maka langkah yang dilakukan dinas pendidikan sejauh ini menurut saya sudah tepat. Pembelajaran dilakukan dengan mempertimbangkan pertambahan kasus, persebaran, dan tingkat kematian dan kesembuhan di sebuah daerah. Maka pebelajaran variasi PTM dan PJJ adalah cara yang tepat di masa pandemi seperti ini. Jika ada warga sekolah yang terpapar,  tidak harus seluruh sekolah di kabupaten yang di-PJJ-kan. Tetapi hanya sekolah yang terpapar saja selama dua minggu. Dengan ini diharapkan proses pendidikan akan terus berjalan.

            Namun ada beberapa kelemahan apabila kita melaksanakan PJJ. Siswa menjadi kurang terkontrol dan kurang antusias dalam menikmati pembelajaran. Pemberian tugas melalui aplikasi dan pemberian materi melalui zoom meeting tidak bisa menggantikan peran guru di depan kelas. Siswa masih belum bisa berkonsentrasi penuh dan mudah terganggu dalam melaksanakan zoom. Kendala yang paling terasa adalah kuota dan sinyal. Ketika sedang asyik-asiknya memberikan materi atau menyimak materi tiba-tiba gangguan sinyal  atau jaringan yang putus karena kuota yang habis mengakibatkan konsentrasi pecah dan menghilangkan mood belajar mengajar. Materi tidak tersampaikan secara maksimal sehingga progres yang ingin dicapai juga tidak maksimal. Tentu saja saya paham ini masa pandemi tetapi sungguh bukan itu semata yang saya risaukan. Proses belajar mengajar hakikatnya adalah proses mendidik. Itulah mengapa departemen kita bernama Departemen Pendidikan dan bukan Pengajaran. Proses pendidikan itu kompleks. Ada belajar mengajar, penanaman moral dan akhlak keagamaan, pembiasaan etika, mengasah keterampilan, pengembangan potensi diri dan sebagainya. Kompleksitas pendidikan itu tidak bisa dicapai hanya dari pembelajaran jarak jauh yang sebenarnya lebih menekankan pada penguasaan materi. Mungkin bisa saja dalam zoom kita selipkan motivasi, ceramah moral, dan unsur-unsur mendidik lainnya tetapi tingkat penyerapan siswa tidak akan sama seperti ketika pembelajaran tatap muka. Pada PTM siswa bukan hanya mendengar, tetapi juga melihat, mencermati, dan belajar nilai-nilai langsung pada perilaku gurunya, hal yang tidak akan pernah didapatkan dalam PJJ. Guru adalah pusat perhatian siswa untuk digugu dan ditiru.  Oleh karena itu menjadi PR besar bagi para pelaku dan penentu kebijakan pendidikan untuk bersama-sama mengatasi hal ini.

            Siapapun pasti tidak ingin terpapar virus ini. Kesehatan adalah yang utama. Tapi pendidikan juga hal yang tidak bisa dikesampingkan. Pendidikan dan kesehatan adalah hak dasar manusia yang harus terus diperhatikan dan ditingkatkan. Kualitas kesehatan di suatu negara menetukan kualitas pendidikannya. Begitu juga sebaliknya. Kualitas pendidikan di suatu negara menentukan kualitas kesehatannya. Keduanya berjalan beriringan dalam barisan yang sama. Horizontal. Bukan vertikal. Jangan sampai karena terlalu fokus terhadap penanganan covid 19 ini kita mengabaikan proses pendidikan sehingga kehilangan satu generasi. Satu generasi yang mungkin saja kelak menjadi penentu nasib bangsa dan  Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Leave a Comment