Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Ditulis dengan huruf Arab dan berbahasa Arab. Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan tindakan mulai bernilai ibadah. Membacanya akan menghadirkan ketenangan dan ketentraman jiwa, sebab Al-Qur’an adalah obat dan rahmat bagi umat Islam.

Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah tidak semata bertujuan menciptakan murid berilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan sebagai bekal hidup. Penyelenggara pendidikan di sekolah juga berfungsi sebagai penanaman nilai agama kepada murid. Mengingat agama adalah panduan hidup di dunia menuju kehidupan akhirat. Agama adalah landasan dan nafas masyarakat Indonesia dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Masyarakat Madura merupakan masyarakat dengan karakter rejilus tinggi. Penghayatan dan pengamalan terhadap agama Islam sagatlah kuat dan begitu mengikat di tengah masyarakat. Kehidupan masyarakat Madura dengan segala aktivitas keseharian sangat kuat dan kental dengan nilai Islam, baik pribadi ataupun dalam sosial.

Dok. Humas SMANSA

Kehidupan masyarakat sering diisi dengan kegiatan ibadah beribadah seperti membaca Al-Qur’an ( mengaji), shalat Sunnah, dzikir, shalawat dan lainnya. Begitupun juga dalam kehidupan sosial sangat kuat dan kental dengan nilai Islam. Seperti pertemuan RT di masyarakat diawali dengan membaca Al-Qur’an surat Yasin dan pembacaan tahlil. Juga banyak kumpulan masyarakat lain berupa khataman Al-Qur’an, shalawatan, berzanji juga hadrah. Islam menjadi nilai (kearifan lokal)dalam masyarakat Madura.

Pendidikan bertujuan mencetak generasi Indonesia yang kuat dan tangguh. Memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal hidup juga bekal pengabdian pada masyarakat. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan ketrampilan tidaklah cukup jika tidak dilandasi dengan keagamaan yang kokoh. Tercerabutnya murid dari kearifan lokal akan menjadi generasi yang asing dan terpisah dari identitas diri dan lingkungan.

Untuk tujuan itu, SMAN 1 Sumenep berkomitmen menyelenggarakan pendidikan berkualitas dan maju mencetak generasi yang menguasai ilmu pengetahuan modern dengan keterampilan hidup. Salah satunya berbentuk program pembelajaran Baca Tulis Hafal Al-Qur’an (BTHQ).

Program BTHQ diselenggarakan tiga kali pertemuan dalam satu pekan. Mulai dari Selasa, Rabu hingga Kamis. Jam pembelajaran BTHQ dimulai dari Jam ke-0 yakni mulai pukul 06:00 wib sampai pukul 07:00 wib.

Beberapa siswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar yang disebut marhalah. Pembagian marhalah didasarkan pada kemampuan membaca Al-Qur’an yang diperoleh dari tes Kognisi BTHQ. Terdapat 33 marhalah. Setiap marhalah dibimbing oleh seorang murabbi, yaitu guru SMAN 1 Sumenep yang telah mengikuti bimbingan Tahsin Al-Qur’an.

Dok. Humas SMANSA

Murabbi dipilih setelah sebelumnya mengikuti kegiatan pembelajaran tahsin Al-Qur’an. Pembelajaran tahsin diselenggarakan oleh SMAN 1 Sumenep bekerjasama dengan Ummi Center. Kurang lebih satu pekan diadakan pelatihan metode Ummi kepada guru. Selanjutkan guru tersebut menjadi murabbi dan akan membimbing murid pada program BTHQ.

Secara berkakala Tim BTHQ SMAN 1 Sumenep melaksanakan kegiatan tadarus. Diikuti oleh seluruh murabbi. Sebagai penguatan dan pemantapan dalam proses penyelenggaraan bimbingan.

Penyelenggaraan BTHQ di SMAN 1 Sumenep mengadaptasi dari pembelajaran metode Ummi. Tim BTHQ SMAN 1 Sumenep menyiapkan sistem dan semua perangkat BTHQ. Dalam penyelenggaraannya selalu dilakukan evaluasi dan revisi untuk perbaikan dari berbagai permasalahan yang dialami dalam penyelenggaraan.

Ada hal menarik yang terjadi dan dialami oleh para guru sebagai murabbi. Terjadi pergeseran materi komunikasi di ruang guru yang dilakukan guru pengajar. Biasanya komunikasi hanya terkait urusan jamak ibu-ibu dan persoalan menghadapi murid ketika mengajar di kelas. Saat ini komunikasi mengarah pada pengalaman kegiatan BTHQ. Guru-guru yang murabbi banyak berbicara tentang cara Baca Al-Qur’an dan pengalaman mengajarkan baca Al-Qur’an.

Leave a Comment