Penulis : Achmad Darwis Sutejo

Guru PAI SMA Negeri 1 Sumenep

Memasuki tahun pelajaran baru di sekolah, dunia pendidikan diramaikan dengan berita ironi tentang perilaku guru. Mulai dari perbuatan cabul sampai tindak kekerasan.  Lihat saja sederet berita tingkah negatif guru, mulai dari kasus Herry Wirawan di Bandung, Mas Bechi di Jombang,  sampai teranyar terjadi di SMPN 6 Pondok Gede Bekasi. Sederet kasus itu memberi alarm tentang darurat dunia pendidikan, khususnya darurat guru. Kondisi ini sungguh melukai citra guru yang sebagai akronim dari digugu lan ditiru. Perilaku negatif ini sungguh menciderai marwah guru sebagai profesi yang mulia.

Sesungguhnya kemuliaan yang melekat pada guru menuntut jawaban dalam bentuk perilaku yang juga mulia. Meminjam narasi yang digunakan paman Ben kepada Peter Parker dalam film Spiderman, kekuatan yang besar bersamaan dengan tanggung jawab yang besar (with great power comes great responsibility). Dengan demikian, besarnya penghormatan terhadap guru juga menuntut tanggung jawab besar, berupa perilaku mulia dan terhormat. Perilaku mulia guru ini penting, karena ia adalah role model bagi anak didiknya. Ditiru anak segala lakunya.

Guru yang Sejati

Pada titik ini diperlukan guru yang sungguh-sungguh menjaga tanggung jawabnya sebagai guru. Guru yang bukan hanya sekadar cara atau profesi untuk mengais rezeki. Juga bukan guru yang terjebak pada formalitas yang bersifat administratif.  Tetapi, guru  sebagai sebuah panggilan jiwa untuk mentransmisikan dan mentransformasikan ilmu dan kebudayaan. Guru yang menyatu di dalam dirinya jiwa guru. Hal ini senada dengan pepatah yang masyhur di kalangan pendidik, jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri (ruuhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi).

Guru berjiwa guru tidak meletakkan profesi guru hanya sebagai pekerjaan unsich. Ia tidak meletakkan profesi guru hanya sebagai aktivitas imanen, tapi juga  transenden. Dunyawi dan ukhrawi.

Ketika dalam posisi begini, ketika mendidik, guru yang berjiwa guru menempatkannya sebagai bagian dari ibadah yang melekat kepadanya sebagai hamba juga khalifah. Bahkan, di mana dan kapanpun ia akan menjaga dirinya, danj juga tentu anak didiknya, dari kehinaan, dan ia sebagai guru memang laik digugu lan ditiru.

Bagi guru yang berjiwa guru, ruang aktivitas keguruannya tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Di luar kelas ia tetap guru . Di luar waktu pelajaran ia tetap guru. Ia adalah guru dalam laku hidupnya. Karena guru adalah entitas yang tak terpisahkan dengan dirinya. Ia adalah guru lahir dan batinnya.

Kera dan Ikan

Apakah cukup sampai disitu? Tidak. Setelah seorang guru mempunyai jiwa guru, ia harus mampu membaca realitas anak didiknya. Maksudnya, guru harus mampu mengetahui ragam kemampuan dan kecenderungan anak didiknya. Harus disadari anak-anak didik di kelas itu adalah realitas majemuk bukan tunggal.

Karena pentingnya membaca realitas anak-anak didik ini, maka pelaksanaan tes diagnostik kemampuan siswa mutlak diperlukan. Tujuannya, agar  mampu mengidentifikasi dan mengukur kemampuan dan pola belajar anak. Kemampuan anak, kemudian diklasifikasikan menjadi rendah, sedang dan tinggi.

Kegiatan tes diagnostik bisa dilakukan oleh guru atau kalau mengalami kesulitan, bisa menggunakan pihak lain yang kompeten untuk itu. Pilihan pertama dilakukan jika guru punya kompetensi untuk itu. Pilihan kedua dilakukan dengan menggandeng lembaga psikologi yang ada, baik di tengah masyarakat atau kampus. Pilihan kedua ini mungkin dilakukan jika difasilitasi oleh sekolah.

Selanjutnya, hasil diagnosa kemampuan anak digunakan sebagai bahan untuk merumuskan pelayanan pembelajaran. Tentu layanan untuk anak berkemampuan tinggi, berbeda dengan yang sedang apalagi rendah. Layanan pendidikan yang didasarkan pada diagnosa akan membantu tercapainya tujuan pendidikan.

Jika guru memberikan layanan pendidikan tanpa melalui proses diagnostik, yang terjadi bisa jadi adalah malapraktik dalam pembelajaran. Guru akan menyamaratakan perlakuan dan layanan kepada seluruh siswa. Bisa berhasil, tapi kemungkinan besar gagal.

Kalau sampai ini terjadi, maka perlakuan guru akan seperti perlakuan kera yang bermaksud menyelamatkan ikan ketika banjir memelanda. Sebagaimana dikisahkan oleh Don Thomas dalam tulisannya berjudul The Monkey and The Fish (1960).

Suatu ketika, negeri dilanda banjir bandang. Ikut terseret dalam banjir itu dua ekor binatang, yaitu seekor kera dan seekor ikan. Si kera yang gesit dan sudah berpengalaman, cukup beruntung dengan bergelantungan pada sebuah pohon dan lolos dari banjir yang sedang mengamuk. Ketika menengok ke bawah dari tempat bertenggernya yang aman, ia melihat si ikan yang malang tengah berjuang melawan derasnya arus. Dengan niat baik, si kera meraih ke bawah dan mengangkat ikan itu dari air. Hasilnya sudah bisa ditebak.

Maka dengan demikian, mengajar tanpa diagnosa yang sahih dan valid, sangat memungkinkan serupa kera yang bermaksud menyelamatkan ikan. Memang guru berniat baik untuk mendidik. Tapi, alih-alih menyelamatkan anak didik dari kebodohan, malah bisa mencelakainya. Ini sungguh berbahaya.

Singkatnya, guru itu harus berjiwa guru, mampu mendiagnosa kondisi anak didiknya, dan mampu memberi layanan pembelajaran sesuai hasil diagnosanya. Semoga dengan itu semua, kabar buruk tentang perilaku guru yang menghiasi dunia pendidikan tidak terdengar lagi. Amin

Leave a Comment